//“ChildFree” Dalam Pandangan Hukum Islam

“ChildFree” Dalam Pandangan Hukum Islam

Oleh : Ardianto

Sekarang ini warga net Indonesia sedang dihebohkan oleh beredarnya berita tetang childfree. Childfree sebenarnya di Negara-Negara maju seperti Eropa bukanlah suatu hal yang baru, namun ketika metode itu dibawa ke Indonesia memang agak sedikit aneh dan menuai pro kontra.

Childfree adalah sebuah istilah yang merujuk pada orang atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Berdasarkan pendapat dari salah seorang Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR) Prof. Bagong Suryanto, M.Si., menyatakan bahwa “secara sosial status dan eksistensi perempuan pada jaman dulu dilihat dari seberapa banyak dia bisa melahirkan anak. Akan tetapi, indikator tersebut saat ini sudah mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kesuksesan perempuan kini sudah tidak lagi diukur dari ranah domestik, melainkan berdasar sektor publik seperti karir, prestasi, dan indikator baru lainnya. Jadi, kalau sekarang muncul perempuan yang mengumumkan tidak ingin punya anak, itu adalah perkembangan baru. Sah-sah saja dilakukan. Hanya saja pada titik tertentu nantinya, saya yakin kerinduan untuk punya anak akan muncul,”

Pada dasarnya pasangan yang ingin menggunakan metode childfree (keputusan tidak ingin mempunyai anak) bukanlah suatu keputusan yang mutlak salah, itu sah-sah saja selagi kedua belah pihak menyetujui hal tersebut. Karena bagi meraka yang ingin menggunakan metode teresebut pastinya telah menimbang dengan matang alasannya untuk tidak mempunyai anak. Ada beberapa faktor utama kenapa banyak sekali pasangan yang memilih untuk childfree, yang pertama seperti tidak siap menjadi orang tua, faktor ekonomi, faktor lingkungan bahkan faktor fisik diri sendiri maupun fisik pasangan.

Victoria Tunggono selaku penulis buku ‘Childfree & Happy’ berkata, “Saya pikir, kalau mau menjadi orang tua itu tidak hanya siap dalam hal materi dan fisik saja, tetapi juga harus ada kesiapan mental dari seorang yang ingin atau yang sudah menjadi orang tua untuk bagaimana melayani anaknya kelak. Bukan hanya orang tua harus melayani, tetapi juga harus di dasari oleh keinginan dari masing-masing pribadi.”

Baca Selanjutnya  Tata Cara Gunakan Materai Rp.10.000

Namun bagaimana jika metode childfree ini dikatikan dengan hukum islam?

Sebagai umat yang beragama islam tentunya tidak aneh lagi dengan kata-kata anak adalah karunia. Kehadiran mereka adalah nikmat. Anak dan keturunan memang dapat melahirkan ragam kebaikan. Dalam kehidupan rumah tangga, anak-anak dan keturunan ibarat tali pengikat yang dapat semakin menguatkan hubungan pasangan suami istri. Dan dari sana lah kemudian akan tercipta keharmonisan dalam rumah tangga; sakinah, mawaddah dan rahmah. (Dari ceramah Syaikh Sa’ad As-Syitsry, Ahkam Al Maulud).

Dari sisi ini saja, anak-anak dengan sendirinya merupakan rizki Allah bagi manusia. Karena rizki sejatinya adalah segala hal yang bermanfaat dan menyenangkan penerimanya. Belum lagi dari sisi yang lain, Allah menjanjikan bahwa setiap anak yang terlahir akan Allah jamin rizkinya. Allah berfirman yang artinya “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An’am [6]: 151)

Berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW “Tazawwajuu al-waduda fa-inni mukaasyirun bikumul-umam.” Yang artinya, “Nikahilah perempuan yang pencinta yang dapat memiliki banyak anak, sebab sesungguhnya aku akan berbangga dengan (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat terdahulu.”(HR Abu Dawud: 2052, dishahihkan Al Albany dalam Jami As-Shahih: 5251)

Dalil tersebut dinilai merupakan dorongan keras untuk umat Islam agar memiliki keturunan apabila memutuskan untuk melakukan pernikahan. Dia juga mengingatkan, siapa pun yang hidup ke dunia sejatinya telah diatur segala rezeki dan takdirnya oleh Allah SWT. Jadi, berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, metode childfree tidak dianjurkan dan bertentangan dengan agama dan bertentangan dengan hukum islam